KALEIDOSKOP




Label

Kamis, 07 April 2016

Gus Miek, Wali Sejak Dalam Kandungan


Gus Miek, Wali Sejak Dalam Kandungan




Membincang ihwal sosok Gus Miek seakan tidak bisa terlepas dari aura kewaliannya yang begitu terpancar, penuh misteri dan nyentrik. Perilakunya yang khariqul ‘adah, cara dakwahnya yang tidak sama dengan ulama’-ulama’ lainnya, membuat jalan dakwah Gus Miek tidak hanya terbatas pada kaum santri, lebih dari itu kalangan selebriti, orang-orang pinggiran dan bahkan para pecinta gemerlap dunia malam pun tidak lepas dari sentuhan dakwahnya.



Kelahiran Gus Miek

Gus Miek kecil lahir dari pasangan KH. Djazuli Ustman dan Nyai Rodhiyah tepat pada tanggal 17 Agustus 1940 di desa Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur. KH. Djazuli pun memberi nama Hamim Tohari Djazuli kepada putra ketiganya itu, yang kemudian lebih sering dipanggil Amiek atau Gus Miek lantaran saudara-saudaranya yang juga masih kecil belum fasih memanggil nama Hamim.

Selama mengandung Gus Miek, Nyai Rodhiyah banyak mengalami peristiwa-peristiwa dan mimpi-mimpi yang luar biasa yang belum pernah ia alami semasa mengandung putra-putra sebelumnya. Sebagaimana keyakinan ulama’ terdahula bahwa mimpi pada saat-saat tertentu memiliki arti penting dan bisa dijadikan isyarat karena merupakan ilham yang dikaruniakan Allah melalui jalan mimipi.

Konon, ketika melahirkan Gus Miek, Sang Ibu menerima tamu tak dikenal yang menyerahkan gabah (padi) yang sangat banyak untuk persiapan menyambut kelahiran Gus Miek. Jika dirunut ke masa berikutnya, banyak orang di sekeliling Gus Miek yang rela menyerahkan harta bendanya kepada Gus Miek, entah sebatas pemberian biasa atau dengan mengharap berkah darinya, tapi tak semua pemberian itu diterima oleh Gus Miek.



Karomah Gus Miek Sejak Kecil

Banyak kalangan Ulama’ yang menyatakan bahwa Gus Miek sudah terlihat kewaliannya sejak masih dalam kandungan, di antaranya adalah KH. Mubasyir Mundzir (Bandar-Kediri) yang merupakan sahabat sekaligus guru Gus Miek, begitu KH. Dalhar (Watucongol) yang kelak menjadi guru Gus Miek.

Bahkan ayahanda Gus Miek, KH. Djazuli justru boso kepada Gus Miek, satu hal yang tidak pernah dilakukannya kepada anaknya yang lain. Hal ini karena keluasan pandangan KH. Djazuli yang memandang bahwa anaknya memiliki derajat yang lebih tinggi di mata Allah ketimbang dirinya. Menurut salah seorang ulama’ Madura; dari segi usia, emmang KH. Djazuli lebih tua dari Gus Miek (karena beliau adalah ayah Gus Miek), tapi dari segi keilmuan, Gus Miek tampak lebih tua. Sebelum wafat, KH. Djazuli mengakui bahwa tanda-tanda kewalian Gus Miek sudah tampak sejak lahir.

Gus Miek yang hobi sekali melihat orang memancing, pernah suatu ketika dengan ditemani salah satu santri Ploso nyundik ikan di sungai Brantas yang berada tepat di belakang Pondok Pesantren Ploso. Gus Miek yang masih kecil tiba-tiba tenggelam dan membuat santri yang menemaninya itu panic bukan kepalang. Dicarinya di sepanjang sungai, Gus Miek belum juga ketemu. Akhirnya, terpaksa dia melapor kepada KH. Djazuli bahwa Gus Miek tenggelam dan dia belum bisa menemukannya. Si santri pun mendapat kemarahan KH. Djazuli dan disuruhnya mencari Gus Miek lagi. Kembali ke sungai, Gus Miek ternyata sudah berada di tepi sungai dalam keadaan normal seperti sebelumnya, ditanya dari mana saja dia, Gus Miek menjawab; tadi dia dibawa Nabi Khidlir ke dalam sungai.

Gus Miek sejak kecil adalah pribadi yang sangat halus dan lembut cerminan kehalusan dan kelembutan hatinya. Tutur kata dan tingkah lakunya penuh kesopanan dan mengagumkan, membuat siapa saja yang berada di dekatnya merasa teduh, tenang dan damai.

Ketika berjalan, Gus Miek kecil selalu menundukkan muka, seakan mencerminkan kerendahan hatinya. Langkahnya pelan, penuh kehati-hatian dan ketenangan, membuat orang yang melihatnya terpukau dalam keanggunan dan keheningan perilakunya.

Gus Miek lebih suka menyendiri dibanding harus berdekatan dan bercengkrama dengan saudara-saudaranya, ibu atau para santri. Ini seolah menyimpan misteri yang tidak terjawab. Karena ia sangat pendiam, Gus Miek lebih asyik bermain sendiri dari pada harus bermain dengan saudara-saudara atau teman sebayanya. Gus Miek kecil memiliki hobi yang bisa dibilang aneh, dia sangat senang mengamati penjual wenter (cat warna) di pasar dan baru akan pulang saat penjual wenter itu tutup, yang kemudian di rumah dia menirukan gaya penjual wenter sambil berteriak-teriak. Gus Miek juga sangat senang melihat orang memancing di belakang pondok. Para pemancing itu senang, akrena setiap ada Gus Miek ikan-ikan pada bergerombol.

Selain itu Gus Miek kecil juga memiliki suara yang merdu, lebih menonjol disbanding saudaranya yang lain pada saat bersama-sama mengaji al Qur’an, bacaannya fasih, mendayu-dayu dan mampu menyejukkan hati pendengarnya.



Pendidikan yang Tak Pernah Selesai

Semasa duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR) Gus Miek lebih sering membolos. Ketika dicari ibunya untuk berangkat sekolah atau mengaji, Gus Miek sering berkilah dengan meminta para santri untuk menutupi persembunyiannya dengan berbagai cara, misal dengan ditutupi pelepah kelapa, tumpukan kayu atau tikar daun pandan.

Di Madrasah, Gus Miek hanya sampai kelas pertengahan Alfiyah saja. Kelas Alfiyah  merupakan kelas hafalan yang terkenal rumit. Ada kisah menarik di sini. Beberapa hari sebelum ujian hafalan Alfiyah, Gus Miek mengajak Khoirudin berjalan-jalan keliling kota.

“Gus, besok saatnya setoran hafalan Alfiyah, apa sampean sudah siap?” Tanya Khoirudin ketika dalam sebuah perjalanan.

“Aku sudah hafal, lha kamu Mas Din?” Gus Miek balik bertanya.

“Aku juga hafal.” Jawab Khoirudin berbohong.

“Sekarang bermain saja, Mas Din. Urusan besok gampang.”

Esok hari tiba. Saat setor hafalan dimulai, Khoirudin mendapat giliran lebih dulu. Dia gugup bukan main karena dia belum hafal seribu bait. Khoirudin pun melirik kea rah Gus Miek seolah menghendaki isyarat tertentu. Gus Miek kemudian menatapnya tajam dan bibirnya berkomat-kamit, meski tak kedengaran. Ajaibnya, tanpa sadar bibir Khoirudin menirukan gerakan bibir Gus Miek hingga Alfiyah yang seribu bait itu selesai. Setelah ujian, Khoirudin pun berterima aksih kepada Gus Mie katas bantuan jarak jauhnya. Keduanya pun dinyatakan lulus.

Dalam pendidikan, terutama al Qur’an, Gus Miek untuk pertama kali dibimbing langsung oleh Sang Ibu, Nyai Rodhiyah, kemudian selanjutnya diserahkan kepada Ustadz Hamzah. Proses belajar itu tak berlangsung lama, baru mendapat satu juz, Gus Miek sudah minta khataman.

Menurut cerita, dari sekian banyak putra KH. Djazuli yang dikhatami Alfiyah dengan syukuran hanya Gus Miek saja. Ini karena Gus Miek yang jarang masuk sekolah dan lebih banyak keluyuran bisa khatam Alfiyah, tentunya ini sesuatu yang luar biasa. Selain juga untuk memotivasi Gus Miek agar lebih giat lagi. Tapi Gus Miek masih sama seperti sebelumnya, di saat saudara dan teman-temannya mengaji, Gus Miek hanya keluyuran dan bermain-main atau tidur-tiduran di samping KH. Djazuli yang sedang mengaji.

Perhatian sang ayah kepada Gus Miek memang berbeda dibanding kepada putranya yang lain. KH. Djazuli hanya akan memulai mengaji jika putra-putranya sudah berkumpul, dan jika tidak mau mengaji maka beliau akan marah sekali, tapi jika Gus Miek yang tidak mau mengaji, maka KH. Djazuli membiarkannya saja.

Pernah suatu ketika Gus Miek disuruh mengaji oleh sang Ayah. Tapi Gus Miek hanya memanggul kitabnya dan mengelilingi KH. Djazuli sebanyak tiga kali. Kemudian dia mengatakan bahwa dirinya telah mempelajarinya, lalu pergi. Melihat tingkah Gus Miek itu, KH. Djazuli hanya diam dan tersenyum.

Perhatian KH. Djazuli yang berbeda kepada Gus Miek ini pertama karena Gus Miek telah memasuki dunia tasawuf sejak kecil. Kedua, desakan dari Nyai Rodhiyah agar Gus Miek dibiarkan melakukan apa kehendaknya, karena sang Ibu tahu bahwa anaknya memiliki kelebihan sejak lahir. Ketiga, masukan dan pertimbangan beberapa kiai tentang keanehan Gus Miek. Dan, keempat, bukti laporan dari beberapa santri yang mengasuh Gus Miek telah menuturkan ihwal Gus Miek dalam memahami kitab. Wallahu A’lam. *Adi Ahlu Dzikri

Selasa, 08 Maret 2016

Cara Shalat Gerhana Lengkap

CARA PELAKSANAAN SHALAT GERHANA‪ #‎NgajiFikih‬ Besok Gerhana Matahari Total (GMT) bisa disaksikan di12 Profinsi di Indonesia. Kita yang tinggal di wilayah Jawa hanya bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian karena tidak termasuk wilyah yang akan dilalui GMT. Di Semarang sendiri, gerhana matahari akan dimulai pada jam 06.22 WIB pagi sampai jam 08.36 WIB. Dalam literatur fiqh gerhana disebut Kusuf (كسوف) dan Khusuf (خسوف). Kedua kata tersebut bermakna sama, yakni gerhana. Namun kalangan Fuqaha’ memakai lafadz Kusuf (كسوف) untuk gerhana matahari (كسوف الشمس) dan lafadz Khusuf untuk gerhana bulan (خسوف القمر)Melaksanakan shalat gerhana hukumnya adalah sunahmuakkad (sangat disunahkan) dan makruh ditinggalkan. Dalam pelaksanaannya shalat gerhana boleh dilakukan sendirian, namun sunahnya dilakukan dengan berjama’ah. Shalat gerhana jika dilakukan berjama’ah adzan dan iqamah diganti dengan “اَلصَّلَاةُ جَامِعَة”. Waktu shalat gerhana dimulai saat bulan/matahari mulai gerhana. Untuk gerhana matahari waktu shalat habis apabila matahari sudah tidak gerhana atau matahari terbenam dalam keadaan masih gerhana. Waktu shalat gerhana bulan habis dengan selesainya gerhana pada bulan atau terbitnya matahari. Waktu shalat gerhana bulan tidak habis dengan terbenamnyabulan dalam keadaan masih gerhana atau terbitnya fajar (masuk waktu shubuh). Sebelum melakukan shalat gerhana disunahkan mandi terlebih dahulu.Jumlah rakaat dalam shalat gerhana sebanyak dua. Tatacara melakukan shalat gerhana ada 3 macam. Pertama adalah shalat dua rakaat sebagaimana shalat sunah yang lain seperti shalat Tahiyat Masjid. Cara yang kedua dikerjakan sebanyak 2 rakaat dimana setiap raka’at shalat gerhana ada dua qiyam (berdiri), dua pembacaan Fatihah, dua ruku’, dan dua sujud. Cara melakukannya adalah seperti shalat biasa: - Setelah Takbirotul Ihram yang disertai niat lalu membaca al-Fatihah dan surat pendek- setelah membaca al-Fatihah dan surat pendek lalu ruku’ - Setelah ruku’ kembali berdiri lalu membaca surat al-Fatihah dan surat pendek. - Selesai membaca fatihah dan surat pendek kedua kali lalu ruku’ kembali. - Selesai ruku’ yang kedua kembali berdiri untuk i’tidalkemudian membaca doa i’tidal sebagaimana biasa. - Lalu dilanjutkan dengan sujud dua kali sebagaimanashalat yang lain. Cara demikian juga dilakukan pada rakaat kedua. Cara yang ketiga dan merupakan cara yang paling sempurna sama dengan cara kedua, tetapi dengan bacaan surat Quran, ruku, dan sujudnya lebih diperpanjang. Adapun surat yang dibaca adalah: - Pada rakaat pertama: Berdiri yang pertama membaca surat al-Baqoroh atau sekuran panjang surat al-Baqoroh. - Pada rakaat pertama: Berdiri yang kedua: membaca surat Ali Imran atau sekuran panjang surat Ali Imron. - Pada rakaat kedua: Berdiri yang pertama: membaca surat an-Nisa’ atau sekuran panjang surat an-Nisa’. - Pada rakaat kedua: Berdiri yang kedua: membaca surat al-Maidah atau yang seukuran panjangnya surat al-Maidah.Lama ruku’ juga diperpanjang. - Pada ruku’ pertama membaca tasbih sebanyak-banyaknya selama ukuran bacaan 100 ayat al-Baqoroh. - Ruku’ kedua seukuran 80 ayat al-Baqoroh. - Ruku’ ketiga seukuran 70 ayat al-Baqoroh. - Ruku’ keempat seukuran 50 ayat al-Baqoroh. Sedangkan untuk lama sujud sama dengan durasi dalam ruku’.Jika shalat dilakukan berjamaah, setelah shalat Imamdisunahkan membaca khutbah dengan rukun sebagaimana dalam khutbah Jum’at. Khutbah dianjurkan berisi motifasi untuk bertaubat dari dosa dan memperbanyak perbuatan baik.Dalam shalat gerhana matahari tidak disunahkan mengeraskan bacaan (jahr). Kesunahan mengeraskan bacaan hanya berlaku dalam shalat gerhana bulan.Tujuan disunahkan memperpanjang bacaan dalam shalat gerhana adalah agar selesainya shalat gerhanasekiranya bersamaan dengan selesainya gerhana. Karena itu jika shalat sudah selesai sedangkan gerhana masih berlangsung maka disunahkan memprbanyak berdzikir dan ibadah.

Rabu, 02 Maret 2016

kisah nyata dan inspiratif mengenai kisah Sayyidina Umar menangis ketika menguji bocah kecil penggembala kambing



Kisah Sayyidina Umar

Alkisah, suatu hari Sayyidina Umar bin Khattab berkeliling meninjau wilayah perkampungannya. Di tengah perjalanan, Sayyidina Umar melihat seorang budak kecil yang sedang menggembala puluhan kambing.

Dalam benaknya, Sayyidina Umar ingin menguji kepintaran budak kecil si penggembala kambing tersebut. Sayyidina Umar lalu mendekati budak itu dan mengutarakan niatnya untuk membeli sebuah kambing yang digembala si bocah.
“Nak, kambingmu saya beli satu boleh?” tanya Sayyidina Umar mengawali perbincangannya.

“Saya ini budak, saya tidak memiliki kewenangan untuk menjual kambing ini. Semua kambing milik majikan saya tuan,” jawab si penggembala dengan kejujurannya.
“Meski milik majikanmu, kalau saya beli satu nanti kamu laporan kepada majikan bahwa kambing yang kamu gembala dimakan macan satu ekor,” timpal Sayyidina Umar menguji dengan pura-pura mengajari sikap berbohong.

Dalam pikiran Sayyidina Umar, si budak ini pasti akan melepaskan satu ekor untuk dijual kepadanya. Namun tak diduga si Budak kecil ini memberikan jawaban lain.
“Saya tidak mau melakukan itu tuan, karena semuanya nanti bisa kelihatan. Meski juragan (pemilik kambing) tidak tahu tetapi Allah akan mengerti dan mengetahui yang saya lakukan,” jawab si budak tegas.

Mendengar jawaban itu, Sayyidina Umar seketika menangis seraya menepuk-nepuk bangga di pundak punggung si budak. Dari peristiwa ini, Sayyidina Umar mendapat ilmu dari bocah penggembala.
Hikmah kisah ini adalah bahwa Allah itu Maha Tahu. Jadi manusia berbuat apapun meskipun tidak diketahui siapapun namun Allah tetap akan mengerti. Maka berbuatlah yang baik-baik supaya dicatat dan mendapat balasan kebaikan dari Allah di hari akhir kelak.

*Judul Asli: Kisah Sayyidina Umar dan Bocah Penggembala Kambing, (ditulis oleh Qomarul Adib di nu.or.id)

* Kisah ini disampaikan Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi yang menerangkan surat Al-Hadid dalam pengajian rutin Tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Ahad (21/7).

Dialog yg cerdas antara Wahabi dan Santri Aswaja ttg Allah di Asry???


#IndonesiaDaruratWahabi

Salah seorang pemilik akun facebook Achmed Al Munawi menuliskan satire-nya kepada kelompok Wahabi yang mentajsimkan Allah (menjasmanikan Allah) atau mengartikan Al-Qur’an secara tekstual, sindiran yang ditulis dengan gaya bahasa “Tanya Jawab” antara Santri Aswaja dan Mahasiswa Wahabi sangat menarik dan sangat mudah difahami, berikut kutipan lengkapnya:

Seorang mahasiswa yang kuliah di Makkah bertemu dengan seorang Santri Pondok ingusan yang masih mondok di sebuah pesantren.
Mahasiswa itu penampilannya heboh, berjanggut kambing, celana cingkrang, dahi hitam sekaligus rambutnya juga hitam (emang gitu kalee). Sedangkan si Santri Pondok biasa aja penampilannya seperti orang deso.

Mahasiswa          : Ya Akhi.. kamu mondok ya?
Santri Aswaja     : iya, kenapa bang?
Mahasiswa          : udah jangan mondok. di sini kiai jawa tidak ikut ulama makkah madinah yang mulia.
Santri Aswaja     : Maksudnya?
Mahasiswa         : Iya, maksudnya kiai jawa gak ikut ulama Makkah Madinah, contohnya, udah jelas dalam Al-Qur’an dikatakan Allah bersemayam diatas arsy. eh, si kiai jawa ngomong Allah tidak membutuhkan tempat
Santri Aswaja    : emang seperti apa ayatnya?
Mahasiswa         : ya banyak, salah satunya yang terpendek, Arrohmaanu ‘alal ‘arsyistawa (QS. Thaha 5)

Santri Aswaja    : berarti Allah bertempat di Arsy?
Mahasiswa        : loh iya. Wong ayatnya jelas gitu kok disangkal. Gimana toh..? Siapa yang mengingkarinya ia kafir. Bukankah juga nabi kita di mi’rajkan kesana?
Santri Aswaja    : Manggut-manggut trus berkata, bagaimana dengan beberapa ayat ini :
“wa idza saalaka ‘ibaadi anni fainnii qoriib….” (QS. Al-Baqarah 186), “wahuwa ma’akum aynamaa kuntum” (QS. Alhadiid 4), juga ayat yang artinya: “sesungguhnya aku (Ibrahim) pergi menuju Tuhanku (di Palestina) yang memberiku petunjuk (QS. Ash-Shaffat 99), juga, “bersihkanlah rumahKu untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud” (QS. Al-Baqarah 125).

Dari dhahir ayat diatas kalo disesuaikan pemaknaannya sama dengan abang berarti Allah ada di Arsy, di palestina, dirumahnya baitullah, juga ada didekat kita. dan selalu bersama kita. Ini juga ayat qur’an bang. yang mana yang bener?
Mahasiswa       : (bengoong…) di atas arsy (tapi udah gak yakin). bukankah dalam hadits qudsy yang sohih imam muslim no.758 dikatakan bahwa Allah turun ke langit terendah saat 1/3 malam terakhir mendengarkan orang berzikir dan berdoa? kalo turun berarti di atas arsy dong. ini sohih lo… pokoknya percaya dah.

Santri Aswaja    : berarti Allah menurut hadits itu selalu ada di langit dunia dunk dan gak pernah balek lagi ke arsy, soalnya 1/3 malam di Situbondo semenit kemudian di Probolinggo. terus begitu selama 24 jam. ada siang ada malam otomatis ada 1/3 malam setiap waktunya. nah kan Allah tidak di Arsy.

Mahasiswa         : (pingsan kejang2…setelah siuman) iya, ya. berarti selama ini aku belajar sama ulama Dajjal yang menyesatkan. kalau begitu, di manakah Allah?
Santri Aswaja    : kata di mana menanyakan tempat, sedangkan Allah tidak membutuhkan tempat. karena tempat adalah makhluk sedang Allah ada sebelum makhluk. Jika abang mendengar raja menduduki wilayah Majapahit artinya sang raja menguasai wilayah itu bukan menduduki seperti abang duduk di kursi. Jika kamu berkata pada istrimu, “kamu selalu ada dalam hatiku” bukan berarti istrinya masuk kedalam hatimu. mana bisa?.

Jika engkau mendengar matahari terbenam disebelah barat bukan berarti mataharinya terbenam. Dia meletakkan kata-kata-NYA sendiri sesuai kehendak-NYA. kita mengimaninya dan menyerahkan setiap makna mutasyabihat kepada Pemiliknya.
Mahasiswa         : (kagum)….wah, Santri Pondoknya aja hebat padahal masih ingusan, apalagi Kiainya ya. aku mau mondok di tempat kamu aja dah, (sambil membuka celana cingkrangnya dikira bid’ah).

(INI BUKAN KATA KATA ULAMA LAGI, YANG MEMBANTAH ADALAH ALLAH SENDIRI). Selamat Merenung saudaraku Wahabi . . 

Sumber: Akun Facebook Achmed Al Munawi

Selasa, 01 Maret 2016

20 Nasehat KH Maimun Zubair Akan Merubah Hidup Anda dalam Sekejap

20 Nasehat KH Maimun Zubair Akan Merubah Hidup Anda dalam Sekejap

KH Maimun Zubair seorang alim dari sarang yang menjadi rujukan ulama Indonesia dalam bidang fiqh. Hal ini, karena K.H Maimun menguasai secara mendalam ilmu fiqh dan ushul fiqh. Apa yang diucapkan mbah Maimun Zubair kerap kali menjadi Nasehat bijak yang patut direnungkan dalam merubah hidup anda dalam sekejap.
KH. Maimoen Zubair sebagai pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah adalah sosok yang paling berperan dalam perkembangan Pesantren. Beliau berjuang sejak dari nol hingga Pesantren berkembang sedemikian pesat, baik dari sisi jumlah santri mapupun luas area komplek Pesantren. Di usia beliau yang senja dan kesibukannya yang begitu menyita waktu, beliau masih aktif mendidik dan menggembleng para santri secara konsisten. Kealiman, kepribadian, kearifannya sangat dikagumi oleh para santri maupun koleganya.
Berikut ALFATRI.net Kutipkan 20 Nasehat dari berbagai sumber antara lain ceramah KH Maimun Zubair, Biografi KH Maimun Zubair dan foto KH Maimun Zubair

1. Wong Yahudi iku biyen gelem mulang angger dibayar,

tapi akehe kiyai saiki ngalor ngidul karo rokoan ora gelem mulang nak ora dibayar, gelem mulang angger dibayar. (Orang Yahudi dulu mau mengajar kalau dikasih uang, tetapi kebanyakan kyai sekarang mondar-mandir sambil rokoan tidak mau mengajar kalau tidak dikasih uang).
Nasehat KH Miamun Zubair 1

2. Wong neng dunyo iku ono bungahe lan ono susahe,

tapi akehe kiyai saiki ngalor ngidul karo rokoan ora gelem mulang nak ora dibayar, gelem mulang angger dibayar. (Orang Yahudi dulu mau mengajar kalau dikasih uang, tetapi kebanyakan kyai sekarang mondar-mandir sambil rokoan tidak mau mengajar kalau tidak dikasih uang).
Nasehat KH Miamun Zubair 2

3. Kanggone wong islam nak susah yo disabari nak bungah disyukuri.

(Untuk orang Islam ketika susah disabari dan ketika senang disyukuri)
Nasehat KH Miamun Zubair 3

4. Apik-apik’e dunyo iku nalikone pisah antarane apik lan olo.

Sakwali’e, elek-elek’e dunyo iku nalikone campur antarane apik lan olo. Mulane apik iku kanggone wong Islam, lan elek iku kanggone wong kafir. (Bagusnya dunia itu ketika pisah antara bagus dan jelek, sebaliknya jeleknya dunia itu ketika campur antara bagus dan jelek).
Nasehat KH Miamun Zubair 4

5. Apik-apik’e wong iku taqwo marang Allah

yoiku ora ngelakoni doso mboh iku doso cilik utowo doso gede kabeh iku di tinggal. (Bagus-bagusnya orang itu ialah orang yang bertaqwa, yaitu tidak mau melakukan dosa, baik dosa kecil maupun besar semuanya ditinggal).
Nasehat KH Miamun Zubair 5

6. Zaman akhir iku senengane podo ngatur pangeran.

yaiku podo akeh-akehan istighosahan koyo-koyo demo marang pangeran. (Zaman akhir itu banyak orang yang mendemo Tuhan yaitu dengan cara Istighosah, seolah-olah seperti mengatur Tuhan).
Nasehat KH Miamun Zubair 6

7. Ngandikone bapakku : حفظ شيئا وغابت عنه أشياء

akehe wong iku ngertine pekoro siji liyane ora ngerti koyo dene wong haji ngertine mong bab kaji, pembangunan masjid yo iku tok, ora ngerti bahwa sodakoh iku yo ono wong miskin mbarang. (Ayah saya pernah mengatakan bahwa banyak orang yang tahu perkara satu tetapi yang lain tidak diketahui, seperti halnya orang tahunya hanya bab haji saja, atau shodaqoh pembangunan masjid saja, tetapi tidak tau bahwa sodaqoh itu juga ada yang buat fakir miskin).
Nasehat KH Miamun Zubair 7

8. Nak wong ahli toriqoh utowo ahli tasawuf iku ora ono bedone

doso iku gede utowo cilik podo bae kabeh didohi. (Kalau orang Ahli Toriqoh atau Tasawuf tidak ada bedanya dosa itu baik besar atau kecil semuanya ditinggalkan).
Nasehat KH Miamun Zubair 8

9. Wong iku seng apik ora kena nyepeleake doso senajan cilik,

lan ora keno anggak karo amal senajan akeh amale. (Orang itu yang bagus ialah tidak menyepelekan dosa meskipun kecil dan tidak sombong ketika punya amal meskipun banyak).
Nasehat KH Miamun Zubair 9

10. Dunyo iku dadi tepo tulodone neng akhirat: الدنيا مراة في الاخرة

(Dunia itu menjadi contoh atau cermin di akhirat).
Nasehat KH Miamun Zubair 10

11. Ngalamate Qiamat iku angger wong tani iku wes aras-arasen tani,

mergo untunge iku sitik. (Termasuk tanda Qiyamat itu orang sudah malas untuk bertani, karena untungnya sedikit).
Nasehat KH Miamun Zubair 11

12. Gusti Allah iku gawe opo bae mergo sebab awae dewe

‘kembang seberat mekar dewe’. (Allah itu membuat apa saja sebab diri sendiri ‘Bunga berat berkembang sendiri’).
Nasehat KH Miamun Zubair 12

13. ﺍﻧﻜﻢ ﺳﺘﻤﺼﺮﻭﻥ ﺍﻣﺼﺎﺭﺍ

seng artine kuwe kabeh ko bakal gawe kota dewe-dewe. (Wong sugih iku ko bakal gawe kota dewe-dewe, wong mlarat iku podo gawe deso dewe-dewe. artinya “Bahwasannya nabi telah bersabda yang artinya: Orang kaya itu akan membuat kota sendiri-sendiri, sedangkan orang Miskin nanti akan membuat desa sendiri-sendiri).
Nasehat KH Miamun Zubair 13

14. Endi-endi barang iku bakale ilang.

Wong mangan daging eyo bakale ilang, tapi ono seng ora ilang, iyoiku barang seng ora ketok koyo dene ruh, kang ora sebab opo-opo, langsung pepareng soko Allah ora melalui proses. (Semua barang itu akan hilang, orang makan daging juga akan hilang dagingnya, tetapi ada yang tidak hilang yaitu Ruh, ini pemberian lansung dari Allah tanpa proses).
Nasehat KH Miamun Zubair 14

15. Wali iku nak katok iku wes ora disiplin wali,

masalahe wali iku ora keno kanggo conto, asale tingkahe iku selalu nulayani adat. (Yang namanya Wali kalau kelihatan itu sudah tidak disiplin Wali, karena Wali itu tidak boleh dicontoh, karena tingkahnya selalu berselisih dengan kebiasaan).
Nasehat KH Miamun Zubair 15

16. Alamate wali iku wes ora biso guneman karo menungso,

masalahe wong nak guneman karo menungso iku yo ora biso dzikir karo Allah (Tanda wali itu sudah tidak bisa berkomunikasi dengan manusia karena kalau berdiskusi dengan manusia biasanya tidak bisa dzikir dengan Allah)
Nasehat KH Miamun Zubair 16

17. Barang yen positif iku ora katon,

bisone katon iku angger ono negatif, koyo kuwe biso reti padang yen wes weruh peteng, wong biso ngerti Allah angger wes ngerti liyane Allah. (Sesuatu yang bagus itu tidak kelihatan, dan akan kelihatan ketika ada yang tidak bagus, contoh kamu tau terang kalau sudah gelap, dan kamu tau Allah ketika kamu tau selain Allah).
Nasehat KH Miamun Zubair 17

18. Wong iku yen solat bengi kok ajak-ajak iku berati ora pati ikhlas,

masalahe mbengi iku wayah turu, lah wong solat iku kudune soko karepe dewe. (Orang ketika salat malam mengajak-ajak berati itu menandakan tidak begitu ikhlas, karena waktu malam itu waktu istirahat, kalau mau salat memang dari keinginan diri sendiri).
Nasehat KH Miamun Zubair 18

19. Sepiro senenge tangi soko kubur,

iku sepiro enakke neng alam akhirat. (Seberapa senangnya orang bangun dari kubur, seberapa senangnya di akhirat).
Nasehat KH Miamun Zubair 19

20. Wong naliko metu soko wetenge simbok iku kudu susah,

tapi yen wong metu soko dunyo alias mati iku kudu roso seneng, iki alamate wong seng bakal urip seneng. (Orang ketika keluar dari kandungan sang Ibu harus susah, sedangkan keluar dari dunia yaitu meninggal harus senang ini alamatnya orang akan senang).
Nasehat KH Miamun Zubair 20
Perubahan Dalam diri anda itu tergantung anda sendiri, apabila ingin berubah menjadi lebih baik silahkan lakukan mulai sekanag. bukan hanya membaca dan membayangkan.
Apabila Informasi ini bermanfaat bagi anda silahkan sebarkan keseluruh teman dan saudara anda. kami juga berharap ada komentar positif untuk 20 Nasehat KH Maimun Zubair Akan Merubah Hidup Anda dalam Sekejap

sumber: alfatri.net

Sabtu, 27 Februari 2016

Poltekkes Semarang Bersholawat Bersama Imam Masjid Agung Jateng

Poltekkes Semarang Bersholawat

Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1437 M, pada Kamis (7 Januari 2015) bertempat di auditorium Kampus I dilaksanakan peringatan Maulid Nabi dengan acara pembacaan Maulidir Rosul, Pembacaan Sholawat Kubro (Sejuta Sholawat) dan tausiyah yang disampaikan oleh KH. Abd Muhaimin-Al Hafidz (Imam masjid Agung Jawa Tengah dan Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Madinah, Semarang). Adapun peserta yang datang diperkirakan mencapai 800 orang berasal dari Dosen, karyawan dan mahasiswa kampus I dan kampus III Poltekkes Semarang.
 
Direktur Poltekkes Semarang menyampaikan bahwa peringatan maulid nabi dengan pembacaan sholawat menjadi suatu momen yang dapat digunakan untuk selalu memupuk kecintaan kepada baginda Nabi Muhammad SAW karena dengan risalah yang disampaikannya kita mendapat hidayah Keimanan dan Keislaman dan membawa kita semua dari jaman jahiliyah kepada jaman yang penuh kecerahan. Oleh sebab itu, sebagai umat yang mengaku cinta kepada Rosulnya sudah barang tentu akan selalu mengucapkan sholawat kepadaNya.
Disamping itu Direktur juga menayangkan peringatan maulid nabi di bebapa negara diantaranya di Pakistan, palestina, Yaman, India, Brunei Darus Salam, Malaysia, Yordania, China. sehingga dapat menambah keyakinan akan pelaksanaan peringatan Maulid Nabi di Indonesia. Direktur juga menyampaikan quote dari Syaikh Hisyam Kabbani : don’t spy each other, Allah will curse us. Allah does not like people to spy on each other, who say, ‘this is what he did”, or “What did he do with that one?’ Try to veil it if yo see something wrong from your brother. One of Allah’s Beatiful Names and Attributes is as-Sattar, the veiler: He veils all our mistake. Does Allah expose our mistakes? It might be on Judgement Day that Allah (SWT) with His rahmah will not expose our mistakes.
He is as-Sattar, The One Who veils eveything.”That is one of My Holly names, to Veil Mistakes, “so veil mistakes of your brother. Islam is to veil each other, not to expose that this one didthis and this one did that. Forgive, because if you forgive Allh will forgive us. And don’t spy on each other.
Adapun KH. Abd Muhamaimin (Al Hafidz) menyampaikan fadillah/keutamaan-keutamaan bacaan sholawat Kubro (sejuta Sholawat) dan Sholawat-sholawat yang lain.

Bolehkah Wanita Haid Mengajar Al-Qur’an?

Assalamu'alaikum. Nama saya Ninik Setiya. Saya ingin menanyakan tentang bagaimana hukumnya seorang wanita yang sedang haid lalu belajar dan mengajarkan Al-Qur'an? bolehkah atau tidak? Karena sejauh ini pendapatnya berbeda, ada yang membolehkan juga ada yang tidak. Terkadang juga menjadi bahan perdebatan. Untuk itu saya mohon penjelasannya, tks

Jawaban

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Bahwa dalam masalah membaca Al-Qur’an bagi orang yang sedang haid memang terdapat perbedaan di antara para ulama. Pada dasarnya menurut jumhurul ulama orang yang sedang haid tidak diperbolehkan membaca Al-Qur`an. Hal ini didasarkan kepada beberapa dalil. Di antaranya adalah firman Allah SWT:

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ - الواقعة: 79

“Tidak ada yang menyentuhnya (al-Qur`an) kecuali hamba-hamba yang disucikan” (Q.S. Al-Waqi’ah [56]: 79)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا تَقْرَأُ الحَائِضُ وَلَا اْلجُنُبُ شَيْئاً مِنَ القُرْآنِ - رواه الدارقطني

“Dari Ibnu Umar ra ia berkata: Rasulullah saw bersbada: Tidak boleh orang yang haid dan orang yang dalam keadaan junub membaca ayat Al-Qur`an” (H.R. Ad-Daruquthni)

Namun jika perempuan yang haid ketika membaca al-Quran tujuannya bukan membaca, tetapi misalnya tujuannya adalah untuk mengajar atau membenarkan bacaan yang salah maka dalam kasus seperti ini diperbolehkan. Hal ini sebagaimana orang yang dalam keadaan junub yang masih diperbolehkan membaca Al-Quran selama tidak diniati untuk membaca (misalnya untuk tujuan berdoa, yang ada ayat Al-Qur’annya).
enjelasannya. Syukron.<>

وَتَحْرُمُ قِرَاءَةُ القُرْآنِ عَلَى نَحْوِ جُنُبٍ بِقَصْدِ القِرَاءَةِ وَلَوْ مَعَ غَيْرِهَا لَا مَعَ الِإطْلَاقِ عَلَى الرَّاجِحِ وَلَا بِقَصْدِ غَيْرِ الْقِرَاءَةِ كَرَدِّ غَلَطٍ وَتَعْلِيمٍ وَتَبَرُّكٍ وَدُعَاءٍ  - عبد الرحمن باعلوي، بغية المسترشدين، بيروت-دار الفكر، ص. 52
“Dan haram membaca al-Qur`an bagi semisal orang junub dengan tujuan membacanya walaupun dibarengi dengan tujuan lainnya, dan menurut pendapat yang kuat tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya. Dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya (al-Qur`an) seperti membenarkan bacaan yang keliru, mengajarkannya, mencari keberkahan dan berdoa,”. (Abdurrahman Ba’alwi, Bughyah al-Mustarsyidin, Bairut-Dar al-Fikr, h. 52)

Bahkan madzhab maliki memperbolehkan perempuan yang haid membaca Al-Quran secara mutlak. Bahkan bagi perempuan yang mengajar atau diajar (guru-murid) yang dalam kondisi haid boleh juga menyentuh mushaf. Alasannya adalah bahwa orang junub itu bisa dengan mudah menghilangkan hal yang bisa membuatnya dilarang untuk menyentuh al-Quran yaitu hadats besar dengan cara mandi besar. Kondisi tersebut berbeda dengan orang yang sedang haid atau nifas. Hal ini didasarkan pada keterangan dibawah ini: 

وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي حَال اسْتِرْسَال الدَّمِ مُطْلَقًا، كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لاَ، خَافَتِ النِّسْيَانَ أَمْ لاَ. وَأَمَّا إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا، فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَتَّى تَغْتَسِل جُنُبًا كَانَتْ أَمْ لاَ، إِلاَّ أَنْ تَخَافَ النِّسْيَان - وزارة الأوقاف والشؤن الإسلامية الكويت، الموسوعة الفقهية الكويتية، الكويت- دار السلاسل، ج، 18، ص. 322 - 
“Kalangan dari madzhab maliki berpendapat bahwa orang yang haid boleh baginya membaca Al-Qur`an dalam kondisi masih mengeluarkan darah secara mutlak, baik dalam keadaan atau tidak, atau adanya kekhawatiran lupa hafalan Al-Qur’an-nya atau tidak. Adapun setelah haidnya terputus maka ia tidak boleh membacanya sebelum mandi besar, baik dalam keadaan junub atau tidak, kecuali ia khawatir akan lupa hafalannya”. (Wazarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Dar as-Salasil, juz, 18, h. 322 H)  
إلَّا لِمُعَلِّمٍ وَمُتَعَلِّمٍ وَإِنْ حَائِضًا لَا جُنُبًا : أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، إلَّا إذَا كَانَ مُعَلِّمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا، فَيَجُوزُ لَهُمَا مَسُّ الْجُزْءِ وَاللَّوْحِ وَالْمُصْحَفِ الْكَامِلِ، وَإِنْ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمَا حَائِضًا أَوْ نُفَسَاءَ لِعَدَمِ قُدْرَتِهِمَا عَلَى إزَالَةِ الْمَانِعِ. بِخِلَافِ الْجُنُبِ لِقُدْرَتِهِ عَلَى إزَالَتِهِ بِالْغُسْلِ أَوْ التَّيَمُّمِ. وَالْمُتَعَلِّمُ يَشْمَلُ مَنْ ثَقُلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ فَصَارَ يُكَرِّرُهُ فِي الْمُصْحَفِ - أبى البركات أحمد بن محمد بن أحمد الدرديري، الشرح الصغير   على أقرب المسالك إلى مذهب الإمام مالك، بيروت-دار المعارف، ج، 1، ص. 150-

“(Kecuali bagi orang yang mengajar atau orang yang belajar meskipun dalam kondisi haid atau junub), artinya haram bagi mukallaf menyentuh mushhaf dan membawanya kecuali dalam kondisi sebagai pengajar atau orang yang belajar maka boleh bagi keduanya menyentuh sebagian  atau papan tulis yang bertuliskan ayat-ayat Al-Quran (lauh) dan seluruh mushhaf meskipun keduanya dalam keadan haid ata nifas kerena ketidakmampuan keduanya untuk menghilangkan penghalang. Hal ini berbeda dengan orang junub karena kemampuannya untuk menghilangkan penghalang dengan mandi atau tayammum” (Abi al-Barakat Ahmad bin Muhamad bin Ahmad ad-Dardidi, Asy-Syarh ash-Shaghir ‘ala Aqrab al-Masalik ila Madzhab al-Imam Malik, Bairut-Dar al-Ma’arif, juz, 1, h. 150).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Jadi yang bisa kami simpulkan, banyak ulama yang memperbolehkan para ustadzah atau guru mengaji (TPA/TPQ) tetap mengajar meskipun sedang dalam keadaan haid. Demikian juga para murid perempuan yang sedang belajar mengaji.
Semoga kita dimudahkan dalam belajar agama, serta dikaruniai ilmu yang bermanfaat dan amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

SHOLAWAT KUBRO DAN IJAZAH KH. ABDUL MUHAIMIN AL HAFIDZ




Sholawat Kubro 
بسم الله الرحمن الرحيم   ۞ صَلَوَاتْ كُبْرٰى ۞

اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ اْلمُرْسَلِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ النَّبِيِّنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ الصِّدِّيْقِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ الرَّاكِعِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ الْقَاعِدِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ السَّاجِدِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ الذَّاكِرِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ اْلمُكَبِّرِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ الطَّاهِرِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ الظَّاهِرِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ الشَّاهِدِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ اْلأَوَّلِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ اْلأٰخِرِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدِي يَارَسُوْلَ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَانَبِيَّ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدِيْ يَاحَبِيْبَ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَنْ اَكْرَمَهُ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَنْ عَظَّمَهُ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَنْ شَرَّفَهُ اللهِ
 
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَنْ اَظْهَرَهُ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَنِ اخْتَارَهُ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَنْ صَوَّرَهُ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَنْ عَبَدَ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاخَيْرَخَلْقِ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاخاَتِمَ رُسُلِ اللهِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسُلْطَانَ اْلاَنْبِياَءِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَابُرْهاَنَ الاَصْفِيَاءِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامُصْطَفٰى
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامُعْلٰى
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَجْتَبٰى
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامُزَكىّٰ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَكِّىُّ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامَدَنِيُّ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاعَرَبِيُّ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاقُرَشِيُّ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاهاَشِمِيُّ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَااَبْطَحِيُّ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَازَمْزَمِيُّ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاتِهاَمِيُّ

اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاأُمِّيُّ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ وَلَدِ أٰدَمَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاأَحْمَدُ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامُحَمَّدُ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاطٰهٰ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَايٰسٓ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَامُدَّثِّرُ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاصاَحِبَ اْلكَوْثَرِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاشَفِيْعُ يَوْمَ المحَشَرِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاصاَحِبَ التاَّجِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاصاَحِبَ اْلمِعْرَاجِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلأٰخِرِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ اْلمُحْسِنِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدَ اْلكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْنِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاصاَحِبَ النَّعْلَيْنِ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدِي ياَرَسُوْلَ اللهِ
ياَخَاتِمَ الأَنْبِيَٓاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَاَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَاسَيِّدِيْ يَانَبِىَّ اللهِ
اِلىٰ يَوْمِ الدِّيْنِ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
Dibawah ini Ijazah dari mbah KH. Abdul Muhaimin agar terhindar dari segala bala' dan marabahaya. insya Allah...:
 
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَاإِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ, عَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ, وَأَنْتَ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ, مَا شَٓاءَ اللهُ كَانَ, وَمَنْ لَمْ يَشَاءْ لَمْ يَكُنْ, وَلَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلَيِّ اْلعَظِيْمِ. اِعْلَمْ أَنَّ اللهَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ, وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْئٍ عِلْمًا
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ, وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَٓابَّةٍ, أَنْتَ أٰخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا, إِنَّ رَبِّيْ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ.

مَنْفَعَةْ: كاعكو عركصا بداني ديوي لان كلواركاني, لان بانداني ساعكا سكابهاني باهيا, فدا اوكا سيع دي كاوا, اتاوا دي تيعكال, دي واحا: صَبَاحًا و مَسَاءً
إن شاء الله سلامت سعكا كوبوعان, كيلاعان, لان كروسأن.  (الحج كياهي عبد المهيمن الحافظ)


About The Author

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Total Tayangan Halaman

Pages - Menu